Pages

Monday, March 5, 2018

Blogger reacts to Indonesian Nursery Rhymes.


Ada yang familiar dengan lagu ini?

Beberapa minggu yang lalu, saya nemenin mama saya belanja di salah satu chain supermarket besar. Supermarket ini memiliki dua lantai dan kebetulan barang-barang yang mama saya cari adanya di lantai dua. Nah, lagu yang dimainkan di lantai dua inilah yang menginispirasi saya untuk membuat review lagu ini. Istilah jaman now-nya bukan review lagi tapi, jobless blogger reacts to Indonesian nursery rhyme!

Di lantai dua supermarket ini, lagu anak ayam berkotek ini diputar on-loop, ga bohong. Saya dan mama saya berada di lantai dua itu selama kurang lebih satu setengah jam dan satu jam dari satu setengah jam tersebut lagu anak ayam berkotek it uterus diputar. Setengah jam sisanya, supermarket ini memainkan lagu Happy dari Pharrell Williams on-loop.

Playlist supermarket ini perlu di update. Seiring berjalannya waktu, lagu Anak Ayam ini memiliki banyak versi, versi baru, versi modern, versi lama, dll. Mungkin, in the depths of internet, ada juga versi EDMnya. Bayangin coba versi EDM jdubz jdubz dari lagu Anak Ayam ini.

Video yang saya lampirkan dalam post ini adalah versi yang diputar di supermarket tersebut.



Disclaimer: sumpah, saya seratus persen ga mabok pas nulis ini.

When you really listen to the lyrics of nursery rhymes, you’ll find that a lot of them have quite morbid lyrics. For example, Humpty Dumpty, London Bridge, etc. I mean, would you announce the fall of London Bridge with that upbeat, cheerful piano in the background? Would you sing about eating someone’s insides who just fell off of a wall?

Answer is, you probably wouldn’t.

ANYWAYS. Karena ini adalah ‘review’. Ya, saya akan mereview.

Dari sisi instrumental, lagu ini repetitive dan sangat catchy namun, instrumental lagu Anak Ayam ini terdengar seperti dibuat di keyboard elektronik, itu lho yang dulu kalo pas pelajaran kesenian musik, dipencet-pencet tombolnya untuk menghasilkan suara-suara basic yang aneh tapi tetep dibuat turnt up sama anak-anak SD. Aaaaayyyyeee.

Lirik lagu anak ayam ini repetitif dengan beberapa variasi setelah setiap bait. Let me go off about the lyrics, man, because it’s morbid.

…Tekotekotekotek
Anak ayam turun berkotek
Anak ayam turun lah empat
Mati satu tinggal lah tiga
Anak ayam turun lah tiga
Mati satu tinggal lah dua…

Gitu terus sampe anak ayamnya mati sisa induknya doang. Awalnya, saya gak ngeh kalo misalnya anak ayamnya mati semua. Sebelum saya sadar, saya ikut gedik-gedik kepala gitu. Ketika akhirnya saya ngeh terhadap lirik lagu tersebut, Mama saya juga ngeh isi bait lagu anak-anak ini.

“Yaampun, Mama baru ngeh kalo pitiknya mati semua,”

Saya pun tertawa. Mama saya tertawa. Kami berdua tertawa.

“Iya, makanya kasian betul mati semua anak ayamnya,”

Setelah kami berdua selesai tertawa, kami lanjut berkeliling lantai dua supermarket tersebut dengan lagu anak ayam tersebut masih diputar. Karena lagu tersebut terus diputar, saya mulai mengalami krisis eksistensial.

DI satu sisi, lagu ini mengajarkan anak kecil berhitung. Ada anak ayam, mati satu, sisa tiga. Empat kurangi satu sama dengan tiga. Di sisi lain, apakah penyanyi lagu tersebut sudah mengerti konsep hidup-dan-mati?

Kebayang ga sih, penyanyinya waktu itu reaksinya gimana?

“Ma, kenapa anak ayamnya mati ma? Ma, mati itu apa, ma???!!”

Atau mungkin, anak-anak jaman dulu yang masih belum mengerti konsep hidup-mati.

“Ma, anak ayamnya kemana semua kok tinggal induknya?”
“Ya kan, anak ayamnya mati,”
“Mati itu apa, ma? MA, KENAPA ANAK AYAMNYA MATI???!!!”

…silahkan baca lagi disclaimer postingan ini.

No comments:

Post a Comment